Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan

RISET TRANSPORTASI PALING TERTINGGAL

     

Pelaksanaan riset dan pengembangan teknologi transportasi merupakan bidang yang paling tertinggal saat ini. Di lima bidang lainnya meliputi pangan, energi, teknologi informasi dan komunikasi, kesehatan dan obat-obatan, serta pertahanan dan keamanan, sudah memperoleh perhatian yang relatif memadai.
Demikian dikemukakan Asisten Deputi Bidang Riset, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi Nasional pada Kementerian Negara Riset dan Teknologi Nanang Widjanarko, Jumat (11/4), di Jakarta dalam konferensi pers menjelang Rapat Koordinasi Nasional Riset dan Teknologi (Rakornas Ristek). Rakornas Ini akan diselenggarakan di Palembang, Sumatera Selatan, 16-17 April 2008.

"Riset di bidang transportasi seharusnya pada multimoda, tidak hanya pada transportasi darat, tetapi juga air dan udara," kata Nanang.

Riset dan pengembangan teknologi untuk enam bidang tersebut diatur di dalam ketentuan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2005-2009. Beberapa riset dan pengembangan teknologi seperti di bidang pertahanan dan keamanan pun sudah terlihat pencapaiannya. Dicontohkan, pada 2009 akan diproduksi di dalam negeri berupa kendaraan taktis panser hasil riset dan pengembangan teknologi pertahanan dan keamanan.

"Pada 2009 nanti, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bekerja sama dengan PT Pindad akan memproduksi 150 unit kendaraan panser," kata Kepala Humas Kementerian Negara Riset dan Teknologi Wawan Bayu dalam konferensi pers tersebut. Hasil riset dan pengembangan teknologi lainnya, seperti di bidang pangan ditunjukkan dari keberhasilan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan). Batan dalam periode 2005-2009 dapat mengembangkan varietas unggul padi dan kedelai dengan teknologi radiasi nuklir.

Varietas padi mira-1 atau kedelai rajabasa, menurut Wawan, menjadi contoh pencapaian hasil riset dan pengembangan teknologi di bidang pangan. Wawan mengatakan, persoalan yang timbul di kemudian hari mengenai upaya produksi massal untuk pembenihan sudah bukan lagi menjadi tanggung jawab Kementerian Negara Riset dan Teknologi.

Nanang mengatakan, di dalam melaksanakan RPJM 2005-2009 saat ini juga memiliki kelemahan di bidang pengembangan sumber daya manusia. Menurut dia, sejak tahun 1998 hingga sekarang Kementerian Negara Riset dan Teknologi tidak menyelenggarakan prog ram beasiswa ke luar negeri.

Baru pada 2009 nanti akan diusulkan program beasiswa untuk studi ke luar negeri di bidang riset dan pengembangan teknologi. Saat ini usulan ini sudah disampaikan ke Badan Perencanaan pembangunan Nasional (Bappenas), kata Nanang.(NAW)

Berita Lainnya :

Diklat Inspektur Mobil Tangki BBM Pertamina
UNDANGAN
PENGUMUMAN
PENGUMUMAN DAFTAR ULANG
PENGUMUMAN
PENGUMUMAN
PENGUMUMAN PELAKSANAAN TES SAMAPTA DAN WAWANCARA
PENGUMUMAN
PENGUMUMAN
PENGUMUMAN PELAKSANAAN TES KESEHATAN